Jarang Dihuni Manusia, Ini Fakta Menarik dan Misteri Pulau Tinjil




Pulau Tinjil (google: rian syaroh)
Pulau Tinjil (google: rian syaroh)

Tinjil merupakan sebuah pulau kecil di Samudera Hindia, tepatnya di Kabupaten , Banten dan menjadi salah satu daerah yang dijadikan sebagai tempat penangkaran aneka liar, termasuk monyet ekor panjang.[1] Pulau yang kabarnya sangat cantik ini, ternyata menyimpan banyak misteri, sehingga tidak banyak yang berani pergi ke sana.

Karakteristik Pulau Tinjil

Secara administratif, Pulau Tinjil yang ada di Samudera Hindia masuk daerah Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten dan memiliki luas sekitar 600 hektar. Jika dilihat dari peta, pulau ini terlihat cukup terpencil, dengan koordinat 6°57′44″LS,105°47′0″BT. Saking kecil dan terpencilnya, mungkin Anda tidak menyadari bahwa pulau ini ada di peta Indonesia.

Bentuk Pulau Tinjil memanjang dari timur ke barat daya dengan morfologi datar dan permukaan pada bagian timur hingga tengah, lalu semakin ke barat berubah menjadi kasar dengan banyaknya bukit kecil. Jika dilihat dari dekat, seperti Anda melihat daratan luas dengan hamparan pasir putih di bagian pinggirnya. Pasir di Pulau Tinjil membentang di sepanjang pulau. Sesekali, Anda akan melihat hewan liar, seperti biawak, burung, dan monyet yang asyik bermain atau sekadar ‘bersantai’ di pinggir pantai.

Kadang, Anda juga akan mendengar suara hewan-hewan liar yang bersahutan dari dalam hutan di Pulau Tinjil. Selebihnya, Anda cuma akan menemukan kesenyapan di pulau ini. Bisa dibilang, daratan ini sangat bersih dan menyejukkan. Sejauh mata memandang, Anda hanya akan melihat pohon, rumput, dan aneka fauna tropis liar. Karena hewan-hewan di sini dilepas begitu saja, Anda tidak dianjurkan untuk berinteraksi dengannya.

Lihat Juga:   Info Terkini Rekomendasi dan Tarif Villa di Cisaat, Sukabumi

Jenis vegetasi yang ada di hutan pulau, antara lain ketapang, melinjo, sawo hutan, dan nipah. Jika Anda beruntung, Anda bisa menemukan buah hutan yang matang dan aman untuk dikonsumsi. Meskipun begitu, Anda hanya boleh mengambil seperlunya dan harus izin dengan penduduk sekitar atau pengelola pulau.

Fakta dan Misteri Pulau Tinjil

Monyet liar di Pulau Tinjil (google: Abdul Latif R.F.)
Monyet liar di Pulau Tinjil (google: Abdul Latif R.F.)
  • Pulau Tinjil termasuk wilayah pengelolaan hutan Perum Perhutani KPH Banten BKPH Malingping. Namun, sejak tahun 1988, melalui proyek kerja sama penangkaran satwa primata, Pulau Tinjil tidak sepenuhnya menjadi objek pengelolaan hutan Perum Perhutani. Pulau ini juga termasuk bagian dari Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk penangkaran monyet berekor panjang (Macaca fascicularis).
  • Pulau ini tidak dihuni penduduk secara permanen dan biasanya hanya dijadikan sebagai tempat singgah untuk keperluan penelitian. Diketahui, jumlah penduduk di pulau ini tak sampai 20 orang dan kebanyakan dari mereka adalah pengelola satwa primata dan beberapa orang nelayan binaan.
  • Para penduduk hanya menghuni pulau di bagian pinggir, karena ini adalah tempat yang paling aman untuk manusia. Untuk tempat tinggal, mereka membangun pondok atau rumah kayu sederhana dengan atap dan dinding dari daun rumbia yang bisa ditemukan di hutan pulau.
  • Terdapat kerajaan kera atau monyet di Pulau Tinjil yang menjadi sebuah misteri mistis di kalangan wisatawan. Sebenarnya ini sangat lumrah, karena pulau sudah dijadikan sebagai pusat penangkaran monyet berekor panjang. Bukan berarti monyet-monyet ini ada tanpa alasan lain atau termasuk hewan jadi-jadian.
  • Sejumlah orang yang meninggal saat pergi dan pulang dari Pulau Tinjil menjadi alasan banyak wisatawan yang enggan ke pulau ini. Ombak di sekitar Pulau Tinjil memang sangat kencang dan tidak disarankan untuk perahu kecil atau perahu biasa berkecepatan rendah ke pulau ini. Namun, hal ini sering dilanggar, dan akibatnya, banyak orang yang mengalami kecelakaan kapal dan tenggelam di area pulau.
Lihat Juga:   Harga Terbaru Tiket dan Wahana Favorit di Dufan dengan Akses Fast Track

Fakta menarik lainnya dari Pulau Tinjil adalah susahnya masuk ke pulau ini, mengingat ini bukan daerah . Jika Anda ingin mengeksplorasi Pulau Tinjil, Anda harus mendapatkan izin secara resmi dari Pusat Studi Satwa Primata dan harus melakukan uji kesehatan supaya tidak menularkan penyakit pada penduduk dan primata di pulau ini.

Hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa Anda dalam keadaan normal, sehat, dan bebas dari beberapa jenis patogen/virus, antara lain TBC (Tuberkulosis) dan SRV (Simian Retrovirus). Hasil pemeriksaan akan ditandatangani oleh petugas pengelola Pulau Tinjil. Setelah mendapatkan izin, barulah Anda bisa menunggu pemberangkatan dengan rombongan di basecamp IPB, di Kampung Muara, Desa Cikiruh Wetan, Kecamatan Binuangeun.

[1] Suwarno. 2014. Studi Perilaku Harian Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis) di Pulau Tinjil. Proceeding Biology Education Conference Universitas Sebelas Maret Surakarta, Vol. 11(1): 544-545.




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan