Daya Tarik dan Tiket Masuk Istana Bogor




Istana Bogor - news.liputan6.com
Istana Bogor - news.liputan6.com

Istana merupakan salah satu dari sekian istana kepresidenan yang dimiliki Indonesia. Kemegahan dan keindahan istana ini sendiri sudah diakui banyak kalangan, termasuk dari para tokoh sekelas Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, maupun mantan Presiden AS, Barack Obama. Untuk berkunjung ke Istana , masyarakat sebenarnya tidak dipungut masuk alias gratis, tetapi sayangnya hanya dibuka untuk umum pada momen-momen tertentu.

Istana Bogor - news.liputan6.com
Istana Bogor – news.liputan6.com

Istana Bogor

Istana Bogor terletak di Ir. H. Juanda No. 1, Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Bogor, Jawa Barat. Lokasi istana tersebut sekitar 60 km dari atau 43 km dari Cipanas. Istana ini sendiri berada di pusat Kota Bogor, berdiri di atas tanah dengan kultur datar seluas 28,86 meter persegi dan ketinggian 290 meter dari permukaan laut. Udara di sekitar Istana Bogor beriklim sedang dengan hawa yang cenderung sejuk.

Istana Bogor

Pada tahun 1744, Gubernur Jenderal Belanda kala itu, Gustaaf Willem Baron Van Imhoff, terkesima akan kedamaian sebuah kampung kecil di Bogor, sebuah wilayah bekas Kerajaan Pajajaran yang terletak di hulu Batavia. Ia pun memiliki rencana untuk membangun wilayah tersebut sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi para Gubernur Jenderal.

Kemudian, pada bulan Agustus 1744, Istana Bogor mulai dibangun dan berbentuk tingkat tiga. Van Imhoff sendiri yang membuat sketsa, dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke Malborough, yang berada di dekat Kota Oxford, Inggris. Seiring dengan waktu, bentuk bangunan Istana Bogor mengalami berbagai perubahan, sehingga yang awalnya dijadikan rumah peristirahatan, berubah menjadi bangunan istana paladian dengan luas halaman mencapai 28,4 hektar dan luas bangunan 14,892 hektar.

Istana Bogor - betulcerita.blogspot.co.id
Istana Bogor – betulcerita.blogspot.co.id

Sempat mengalami kerusakan berat pada tahun 1834 akibat gempa bumi yang berasal dari letusan Salak, Istana Bogor menerima renovasi pada tahun 1850, tetapi tidak bertingkat karena menyesuaikan dengan situasi daerah tersebut yang sering terkena gempa. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer van Twist, bangunan lama sisa gempa dirobohkan dan dibangun kembali dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19.

Lihat Juga:   Tempat Wisata Di Medan

Tahap penyelesaian akhir bangunan Istana Bogor selesai pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Charles Ferdinand Pahud de Montager (1856-1861). Sembilan tahun kemudian, Istana Buitenzorg (nama lawas Istana Bogor) ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Penghuni terakhir istana tersebut adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starckenborg Stachouwer yang harus menyerahkan istana ini kepada Jenderal Imamura, pemerintah pendudukan Jepang. Total, sebanyak 44 Gubernur Jenderal Belanda pernah menjadi penghuni Istana Bogor ini.

Pada akhir Perang Dunia II, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) sempat menduduki Istana Buitenzorg sambil mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Pengambilalihan selesai ketika tentara Ghurka datang menyerbu dan memaksa para pemuda keluar dari istana. Sebagai tindak lanjut pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia, Buitenzorg diserahkan kembali kepada pemerintah Republik Indonesia pada akhir 1949 dan namanya diubah menjadi Istana Kepresidenan Bogor.

Setelah masa kemerdekaan, Istana Bogor mulai dipakai pemerintah Indonesia sejak bulan Januari 1950. Pada tahun 1952, bagian depan Gedung Induk mendapat tambahan bangunan berupa sepuluh pilar penopang bergaya Ionia yang menyatu dengan serambi muka yang tertopang enam pilar dengan gaya arsitektur yang sama. Sementara, anak tangga yang semula berbentuk setengah lingkaran diubah bentuknya menjadi lurus, sedangkan jembatan kayu lengkung yang menghubungkan gedung utama dan gedung sayap kiri dan sayap kanan diubah menjadi koridor.

Presiden Soekarno adalah presiden Indonesia yang paling sering menetap di Istana Bogor. Selama tiga hari dalam sepekan, presiden Indonesia pertama itu menghabiskan waktunya di tempat ini. Bung Karno menggunakan ruang Teratai dalam ruang induk untuk menerima tamu-tamu negara. Dan, karena sebagai pencinta karya seni, Presiden Soekarno pun memenuhi Istana Bogor dengan berbagai karya seni bernilai tinggi.

Lihat Juga:   Gudeg Wijilan Bu Lies, Wisata Kuliner Nge-Hits dari Yogya

Di ruang kerja Istana Bogor, Presiden Soekarno melakukan penandatanganan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang disaksikan tiga jenderal TNI Angkatan Darat. Setelah peristiwa 1965, Presiden Soekarno harus menyerahkan kursi kepresidenan kepada Presiden Soeharto. Soekarno dan keluarga pun meninggalkan Istana Bogor pada bulan Maret 1967 untuk pindah ke Istana Batutulis di Bogor.

Daya Tarik Istana Bogor

Bangunan Istana Bogor terdiri dari bangunan utama yang digunakan untuk acara kenegaraan resmi, empat kamar tidur di sebelah kanan untuk kepala negara sahabat yang datang berkunjung, enam kamar tidur di sebelah kiri untuk menjamu tamu negara, kantor pribadi presiden Indonesia, perpustakaan dengan koleksi 4.500 buku, ruang makan, ruang sidang menteri, ruang Garuda sebagai tempat upacara resmi, ruang Teratai sebagai tempat menerima tamu negara, dan lima buah paviliun yang terpisah dengan bangunan utama.

Selain faktor histori dan arsitektur, daya tarik utama Istana Bogor tentu saja karya seni yang telah dikoleksi mantan Presiden Soekarno. Di tempat ini, terdapat patung Presiden Yugoslavia, Josef Broz Tito, patung Sarinah karya Trubus, dan patung kepala Sang Buddha dari Myanmar yang tampak menghiasi sisi ruang perpustakaan. Sementara, di ruang kerja, terdapat lukisan upacara perkawinan Rusia karya Makowski, lukisan flamboyan buatan Addolf, patung Jatayu Merah, patung Wayang dari uang kepeng, keramik Thailand, dan keramik hadiah Perdana Menteri Uni Sovyet, Nikita Khruschev.

Tiket Masuk Istana Bogor

Kegiatan Istana Bogor untuk Rakyat (Istura) sebenarnya dilakukan rutin setiap tahun oleh Dinas dan Kebudayaan Kota Bogor. Untuk bisa mengunjungi istana ini, masyarakat tidak perlu membayar tiket masuk alias gratis. Tetapi, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi, di antaranya dilarang membawa kamera dan mengambil gambar serta barang bawaan kecuali dompet, batas usia minimal 10 tahun, serta menggunakan pakaian tertentu seperti batik dan kemeja.




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan