Jelajah Kuliner Tengah Malam di Sidoarjo




Dimas sedang melayani pembeli rawon di warungnya di Jalan Gajah Mada.

KESIBUKAN warung-warung ini amat mencolok justru menjelang tengah malam. Ketika warung-warung nasi umumnya sudah tutup pukul 22.00, warung tengah malam ini justru baru mulai buka. Di Jalan Gajah Mada, misalnya, beragam menu selalu menanti tamu saat dini hari. Salah satunya Warung Rawon Gajah Mada dan Rawon Al Abror.

Saat pertokoan mengakhiri aktivitas bisnisnya, para penjual nasi rawon di sepanjang jalan tersebut mulai menggeliat. Pukul 21.00 bersiapsiap, pukul 22.00 mulai melayani pengunjung. Sebuah tenda kecil dan deretan kursi hampir selalu penuh setiap malam. Warung Al Abror disebut-sebut merupakan pionir warung-warung lain di sepanjang jalan protokol tersebut.

Pemilik warung Al Abror, Firdaus Rahman, mengatakan, warungnya sudah buka turuntemurun. “Dulu awalnya, ibu saya, Siti Mar’ah, yang memulai usaha itu,” terang lelaki yang akrab disapa Cak Ihok itu. Usaha tersebut dimulai pada 1985, di depan Masjid Al Abror yang konon masjid tertua di . Karena itulah, nama Rawon Al Abror begitu terkenal di kalangan peminat malam. “Sebenarnya tahun-tahun itu masih sepi.

Tidak ada yang jualan hingga tengah malam,” terangnya. Beberapa tahun kemudian, bermunculan pedagang lain. Kemudian, usaha tersebut diteruskan olehnya. “Mulai usia tujuh tahun saya ikut ibu berjualan. Saya tahu mulai resep hingga cara berdagangnya,” ucap pria 35 tahun ini. Letak warung akhirnya pindah ke depan Matahari Department Store ketika Masjid Al Abror dipugar pada awal 2000-an.

Lihat Juga:   Hotel Prisma, Akomodasi Transit di Bungurasih Tawarkan Fasilitas Lengkap

Semula ada kekhawatiran pengunjung bakal sepi. Ternyata yang terjadi sebaliknya. Justru pelanggan rawon itu semakin banyak. Dalam sehari paling tidak 400 porsi nasi habis. Memang ada menu nasi campur. Tapi, sajian kuah kental khas rawon tradisional menjadi daya tarik utama warungnya. “Banyak pelanggan memilih kuahnya kental,” ucapnya. Aroma kuah rawon lebih kuat. Lauk lidah, empal, otak, babat, hingga perkedel menjadi pasangan hangat menu rawon.

Jalan Gajah Mada yang strategis sangat mendukung perkembangan usaha warung itu. Setiap malam pemilik berbagai mobil parkir berjejer hanya untuk rawon. “Banyak pelanggan dari luar kota, seperti , Pasuruan, dan yang sengaja datang ke Sidoarjo hanya demi rawon,” katanya. Salah satunya Alimin. Warga Karanglo, Malang, itu tiga hari sekali selalu menyempatkan diri di Al Abror. “Saya ada keperluan bisnis di Surabaya,” ucapnya. Setiap balik ke Malang, dia memilih tidak langsung melewati jalan tol dan keluar di Porong, lalu bablas ke Malang. “Makan rawon dulu biar perut nyaman di ,” ungkapnya.

Warung lain yang tak kalah ramai adalah Warung Rawon Gajah Mada. Letaknya di seberang Warung Al Abror. Pemiliknya seorang anak muda bernama Dimas Rahmat Patrianto. Dimas memulai usaha hanya bermodal rombong kecil. Namun, lama-lama warungnya semakin ramai. Tidak hanya pengunjung biasa yang datang.

Beberapa artis menyempatkan diri makan di warungnya meski dini hari. Sebut saja pedangdut Inul Daratista, pelawak Kiwil dan Polo, Cak Nun, hingga personel Project Pop. Mereka mampir ketika ada pementasan di Surabaya. Termasuk, Bupati Saiful Ilah, warga asli Sidoarjo, yang sudah bertahuntahun langganan makan di situ.

Lihat Juga:   Info Fasilitas & Harga Tiket Masuk Pantai Pandawa Bali

“Inul juga mulai belum punya anak sampai punya anak sering makan di sini,” ucapnya. Kata Dimas, warung rawonnya sebenarnya berawal dari resep warisan neneknya, yang dikenal dengan sebutan Wak Jah. Rawon Wak Jah ada di Pasar Jetis, yang sekarang masih tersisa di belakang Matahari. “Tapi, pasarnya terbakar,” terangnya. Pada 1990-an, warungnya vakum. Namun, pada 2000-an warung resep Wak Jah muncul lagi. Dari Wak Jah, resep rawon menurun kepada Basuki, ayah Dimas. Dimas pun mengembangkannya dari satu meja kecil menjadi ramai seperti sekarang. Selain rawon, perkedel, otak, lidah, paru, dan sejenisnya, Dimas menambahkan satu ciri khas, yaitu telur asin sebagai pasangan rawon.

Ternyata yang suka sangat banyak. Bahkan, sering pelanggan memilih telepon dulu untuk memastikan rawonnya masih ada atau sudah habis. Bisa dibilang 50 persen pelanggan dari Surabaya. Sisanya dari Sidoarjo dan kota-kota lain.

Karena begitu ramai, Dimas lantas membuka cabang di Jalan Mojopahit. Warung rawon baru itu dijaga kakaknya yang bernama Dwi Rahayu. “Hanya, kakak bukanya lebih sore,” terangnya. Tak hanya di Jalan Mojopahit, Dimas juga membuka cabang warung rawon lagi di Jalan Raya Kenongo, Tulangan. (adh/c2/roz/jpnn)

Pembeli memesan pecel khas warung Linda di Sepanjang. Belasan warung lain juga siap melayani pengunjung yang lapar.
Pembeli memesan pecel khas warung Linda di Sepanjang. Belasan warung lain juga siap melayani pengunjung yang lapar.




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan