Berwisata dan Belajar Sejarah di Candi Badut, Candi Tertua di Jawa Timur




Candi Badut, wisata, sejarah, malang, kerajaan, kanjuruhan, gajayana, tiket, lokasi, alamat, kabupaten, dau, jawa timur, kuno, favorit, raja, hindu, syiwa, unik, fasilitas, transportasi
Candi Badut

Jauh sebelum berdirinya Kerajaan Singhasari, di Malang sudah berdiri sebuah kerajaan makmur yang bernama Kerajaan Kanjuruhan, dan diperkirakan berdiri pada abad ke-6 M. Keberadaan kerajaan ini dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Dinoyo, yang diduga ditulis pada tahun 760 M. Raja paling terkenal dari kerajaan ini adalah Raja Gajayana, yang kini diabadikan menjadi nama sebuah stadion di pusat Kota .

Selain Prasasti Dinoyo, peninggalan lain dari kerajaan ini adalah Badut dan Wurung. Namun sayangnya, hanya Badut yang masih dapat dinikmati keindahan rupanya hingga kini.

Candi Badut ditemukan oleh pakar arkeologi di tahun 1923. Candi yang juga disebut dengan Candi Liswa ini berlokasi kurang lebih 5 km dari pusat Kota Malang, tepatnya di Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi Badut diduga dibangun jauh sebelum masa pemerintahan Raja Airlangga, yaitu masa dimulainya pembangunan candi-candi lain di Jawa Timur, dan diperkirakan merupakan candi tertua di Jawa Timur.

Candi Badut termasuk peninggalan yang unik. Pasalnya, berbeda dengan candi-candi lain di Jawa Timur yang umumnya dibangun dengan menggunakan bata merah, Candi Badut dibuat dengan menggunakan andesit.

Ciri khas lain yang membedakan Candi Badut dengan candi lain di Jawa Timur, yaitu pahatan Kalamakara yang menghiasi ambang pintunya. Pada umumnya, relief kepala raksasa yang terdapat di candi-candi Jawa Timur dibuat lengkap dengan rahang bawah, namun Kalamakara yang terdapat di Candi Badut dibuat tanpa rahang bawah, mirip dengan yang didapati pada candi-candi di Jawa Tengah.

Tubuh candi Badut yang tambun juga lebih mirip dengan candi di Jawa Tengah. Candi ini juga memiliki kemiripan dengan Candi Dieng (di Jawa Tengah) dalam hal bentuk serta reliefnya yang simetris. Candi Badut diyakini sebagai candi Syiwa (Siwa), walaupun sampai saat ini belum ditemukan arca Agastya di dalamnya.

Lihat Juga:   Harga Tiket Masuk Bukit Klangon, Spot Wisata Hits untuk Selfie

Dinding candi terdapat hiasan relief burung berkepala manusia serta peniup seruling. Selain itu, pada keempat sisi candi juga terdapat relung yang berhiaskan bunga serta burung berkepala manusia. Pada sisi utara dinding luar, terdapat arca Durga Mahisasuramardini yang terlihat rusak. Pada sisi selatan, seharusnya terdapat arca Syiwa Guru serta bagian timur terdapat arca Ganesha. Namun, keduanya kini sudah tidak ada di tempatnya.

di Candi Badut

Candi Badut, wisata, sejarah, malang, kerajaan, kanjuruhan, gajayana, tiket, lokasi, alamat, kabupaten, dau, jawa timur, kuno, favorit, raja, hindu, syiwa, unik, fasilitas, transportasi
Candi Badut

Sebagai sebuah situs peninggalan sejarah bangsa, tentu saja wisata sejarah menjadi kegiatan utama di Candi Badut, karena nilai-nilai yang terkandung dalam cerita candi Syiwa ini patut dan menarik untuk dipelajari. Selain itu, keunikan desainnya juga menjadikan candi ini cocok dijadikan sebagai lokasi swafoto bersama teman atau keluarga.

Di Candi Badut, dalam beberapa kesempatan juga menjadi lokasi favorit untuk melakukan acara-acara budaya, misalnya pembacaan puisi dan Festival Bahana Badut yang digelar awal September 2017. Festival Bahana Badut sendiri terbilang cukup menarik. Pada sore hari, festival ini dimulai dengan jelajah jejak peradaban Kanjuruhan, sarasehan budaya bertema Konservasi dan Fungsionalisasi Cagar Budaya di DAS-Metro, dan prosesi pengambilan air sumber (tirta amerta) di Kali Metro.

Pada malam hari, acara dilanjutkan dengan prosesi seremonial Mbulan Ndadari Badut dan dilanjutkan pertunjukan musik dari para performer. Pada pertunjukan ini, berbagai aliran musik yang dimainkan para musisi tersebut dikolaborasikan dengan budaya lokal seperti Seni Jaranan.

dan Tiket Masuk Candi Badut

Candi Badut memang bukan merupakan objek wisata utama di Kota Malang, namun soal fasilitas terbilang cukup lumayan. Fasilitas dasar seperti MCK, musala, dan kios makanan sudah ada di sekitar candi ini. Untuk parkir kendaraan, Anda bisa meletakkannya di lapangan di samping kawasan candi. Namun, Anda harus mengunci ganda kendaraan Anda untuk menjamin keamanannya, karena tidak ada tukang parkir.

Lihat Juga:   Bikin Merinding, Komunitas GPC Tangkap Penampakan Hantu di Rumah Pengalengan

Untuk tiket masuk, pengelola Candi Badut tidak menerapkan tertentu. Anda dan rombongan hanya perlu membayar seikhlasnya. tersebut nantinya akan digunakan untuk perawatan candi.

Soal transportasi, bagi Anda yang ingin berkunjung menggunakan kendaraan umum, tak perlu khawatir karena terdapat angkot dengan kode AT yang rute akhirnya berlokasi dekat dengan candi ini. Biaya naik angkot juga terbilang cukup murah. Untuk sekali jalan, Anda cukup membayar sebesar Rp4.000 per orang. Setelah naik angkot, lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai di candi ini.

Sekadar informasi, Candi Badut buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB sampai 15.00 WIB. Namun, apabila Anda dan rombongan ingin berkunjung di waktu lain, Anda perlu terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak pengelola

Candi Badut, wisata, sejarah, malang, kerajaan, kanjuruhan, gajayana, tiket, lokasi, alamat, kabupaten, dau, jawa timur, kuno, favorit, raja, hindu, syiwa, unik, fasilitas, transportasi
Candi Badut

Larangan dan Imbauan

Saat berwisata di Candi Badut, wisatawan harus memerhatikan beberapa imbauan dan larangan yang diberlakukan. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kelestarian candi, karena maklum saja, usia situs yang sudah 1.400 tahun membuatnya rawan mengalami kerusakan.

Saat berkunjung ke Candi Badut, Anda tidak diperbolehkan merusak atau mengubah bentuk benda cagar budaya. Kedua, Anda tidak diperkenankan untuk membawa pulang benda apa pun yang ditemukan di kawasan candi. Terakhir, Anda tidak diperbolehkan mengotori atau mencoret-coret benda cagar budaya. Bagi Anda yang melanggar, sebagaimana tercantum dalam UU No. 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, Anda akan dituntut hukuman pidana penjara maksimal 15 tahun atau denda sekurang-kurangnya Rp500.000.000 dan maksimal Rp2.500.000.000.




Be the first to comment

Leave a Reply

Berikan rating*

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*