Wisma Karya Subang, Bangunan Iconic dan Sarat Sejarah




Wisma Karya Subang - zidhanxsana.blogspot.com

Jika Anda pernah berkunjung ke Pemandian Ciater, Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan . Pemandian yang banyak diserbu turis dalam negeri maupun mancanegara itu memang terletak di Subang, sebuah kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat dan ada di wilayah Pantura.

Wisma Karya Subang - zidhanxsana.blogspot.com
Karya Subang – zidhanxsana.blogspot.com

 

Tidak cuma Pemandian Ciater saja yang menjadi andalan Subang dalam menarik . Berada di dataran tinggi, kabupaten ini juga memiliki beberapa objek yang tak kalah menakjubkan, sebut saja Curug Hijau yang memiliki tujuh air terjun, Curug Cileat, serta yang paling , Gunung Tangkuban Perahu.

Selain wisata alam, Subang juga memiliki beberapa objek wisata bersejarah, salah satunya Wisma Karya. Wisma Karya ini memiliki nilai penting bagi perjalanan kemerdekaan di Subang karena sudah dibangun sejak zaman penjajahan Belanda.

Wisma Karya beralamat di Jalan Ade Irma Suryani Nasution No. 2, Karanganyar, Subang, Jawa Barat. Bangunan ini berdiri di atas lahan seluas 1 hektare dan berada di yang strategis karena terletak di pintu gerbang ke Kota Subang dari arah Bandung.

Awalnya, Wisma Karya dijadikan tempat refreshing bagi kaum gegadan Belanda di bawah kepemimpinan Tuan PW Hofland. Dalam naskah sejarah PW Hofland yang berada di Museum Daerah Kabupaten Subang, disebutkan bahwa Hofland melakukan penjajahan di daerah Subang dengan cara memperluas kekuasaan dengan menjalankan usaha di bidang perkebunan kopi. Hofland sendiri kala itu memang terkenal sebagai seorang saudagar kopi.

Hofland kemudian membuat kontrak dengan pemerintah Hindia-Belanda dalam bidang perdagangan kopi pada tahun 1840. Ia pun turut menjadi pemilik tanah P&T (Pamanoekan & Tjiasem) Landen. Kemudian, di tahun 1858, seluruh tanah partikelir P&T Land menjadi milik pribadi Hofland. Pemerintah Hindia-Belanda kemudian memberikan kekuasaan untuk mengangkat pejabat pemerintah partikelir yang disebut dengan demang pada tahun 1859.

Dalam upaya untuk membuat dirinya eksklusif di tanah jajahannya, Hofland bersama dengan delapan demang mendirikan sebuah gedung yang kemudian diberi nama Societe (kelompok masyarakat eksklusif). Kelompok inilah yang sering berkumpul untuk saling bersosialisasi di gedung yang sekarang dikenal dengan nama Wisma Karya.

Pada tanggal 14 Januari 1929, gedung ini direnovasi dan diresmikan oleh Mrs. WH Daukes. Selain sebagai tempat bersosialisasi para pejabat P&T Land, gedung tersebut juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan dan hiburan, olahraga, golf, biliar, serta bowling bagi bangsa asing.

Dilihat dari arsitektur bangunan, di bagian kanan Gedung Wisma Karya terdapat ruangan pertemuan sekaligus panggung. Di tempat inilah para gegadan Belanda menonton film dan berdansa, dilengkapi dengan tempat pemutaran film. Sementara, di belakang ruangan keduanya, terdapat beberapa ruangan yang menyerupai kantor-kantor.

Sisi barat, utara, dan timur berpagar besi, sedangkan bagian selatan merupakan halaman terbuka sebagai public space. Bangunan Wisma Karya sendiri bergaya post-modern dengan denah segi empat yang terdiri dari empat unit mengelilingi. Masing-masing bagian, dinding bagian bawah dari bahan sedangkan bagian atas dari bata. Serambi depan diperkuat dengan tiang-tiang berbentuk persegi.

Sekarang ini, kawasan ini merupakan kawasan perkantoran pemerintah dan pemukiman penduduk. Di depan Wisma Karya merupakan kota yang selalu ramai. Di sebelah barat, merupakan kawasan pemukiman, demikian juga di sebelah utara.

Lihat Juga:   Wisma Cempaka LPPI, Penginapan Nyaman & Layak Inap di Kemang




Be the first to comment

Leave a Reply

Berikan rating*

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*