Potensi Wisata Pulau Bungin, Uniknya Daerah Terpadat di Dunia




Pulau Bungin (sumber: tribunnews)
Pulau Bungin (sumber: tribunnews)

Jika Anda berpendapat bahwa Jakarta adalah daerah terpadat, Anda harus merevisi opini tersebut. Pasalnya, masih ada Bungin yang diklaim menjadi wilayah terpadat, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Meski demikian, pulau yang terletak di lepas Laut Bali tersebut ternyata menyimpan kekayaan wisata yang mengagumkan, termasuk kuliner seafood yang menggugah selera.

Lokasi Bungin

Secara administratif, Bungin termasuk wilayah Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Selain di Sumbawa, Pulau Bungin dapat ditemukan di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, yang secara ekologis juga berpotensi menjadi wisata pantai, walau sarana dan prasarana di sana dinilai masih belum memadai.[1] Jadi, Anda jangan sampai salah alamat.

Menurut bocoran salah seorang pelancong, untuk menuju Bungin, pengunjung bisa melewati darat dari Pelabuhan Poto Tano. Meski letaknya terpencil di laut lepas, sudah ada jalan yang menghubungkan daratan Sumbawa dengan Bungin. Jalan darat sejauh tiga kilometer bisa menjadi pengalaman unik tersendiri karena pengunjung seolah berjalan membelah lautan.

Sementara itu, apabila bertolak dari Lombok, wisatawan dapat menuju Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur terlebih dahulu, kemudian berangkat ke Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa. Durasi waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan ini sekitar enam sampai delapan jam. Per Mei 2022, tarif kapal laut untuk penyeberangan tersebut sebesar Rp17 ribu untuk penumpang dewasa dan Rp5.200 untuk penumpang bayi dan anak-anak berusia maksimal dua tahun.

Lihat Juga:   Fasilitas & Harga Terkini Sewa Villa di Anyer

Potensi Wisata Bungin

Dikutip dari CNN Indonesia, menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2014, luas wilayah Pulau Bungin hanya sekitar 8,5 hektar, dengan lebih dari 5 ribu penduduk menetap di daerah ini, sebagian besar adalah Suku Bajo dari Sulawesi Selatan yang telah menghuni Pulau Bungin sejak 200 tahun silam. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian Desa Pulau Bungin dikatakan sebagai tempat paling padat di dunia, karena hampir tidak ada lahan kosong di pulau tersebut.

Pulau Bungin (sumber: jawapos)
Pulau Bungin (sumber: jawapos)

Apabila Anda kebetulan berwisata di pulau ini, setelah sampai, tidak seperti pulau pada umumnya, jangan berharap untuk menemukan pantai lengkap dengan deretan pohon kelapa di Pulau Bungin. Sejauh mata memandang, traveler hanya akan melihat rumah-rumah penduduk yang saling berhimpitan, yang didominasi rumah-rumah berbentuk panggung.

Yang unik, rumah yang berdiri di desa ini tidak menggunakan batu atau tanah sebagai dasar pondasinya. Warga setempat menggunakan terumbu yang sudah mati sebagai dasar rumah. Penduduk juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli tanah, sebab mereka menguruk tanahnya sendiri. Untuk membuat hunian anyar, warga kabarnya harus melakukan reklamasi lantaran keterbatasan lahan.

Karena demikian padatnya, bahkan setiap pria yang berniat menikah di Pulau Bungin, kabarnya harus membuat lahan sendiri untuk tempat membangun rumahnya, yaitu dengan cara menimbun -karang mati, batuan, tanah, atau pasir. Jika telah siap, barulah dianggap telah siap pula untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Lihat Juga:   Harga Tiket Pantai Cibeureum, Wisata Eksotis di Anyer

Lalu, apa menariknya rekreasi ke Pulau Bungin? Meskipun padat, Pulau Bungin tetap memiliki keunikan tersendiri yang mungkin tidak akan dapat Anda temukan di daerah lain. Yup, Pulau Bungin sangat terkenal dengan kuliner seafood-nya. Bagi mereka yang gemar bersantap, akan menemukan banyak hidangan laut. Turis pun dapat memilih ikan segar langsung dari penangkaran ikan dengan harga yang cukup ramah di kantong.

Kenikmatan seafood semakin bertambah karena Anda dapat menyantapnya di restoran apung Pulau Bungin. Dinamakan demikian, karena tempat makan ini terletak di atas lautan. Untuk menuju restoran terapung tersebut, wisatawan dapat menyewa perahu dengan tarif cuma Rp5 ribuan. Namun, warga setempat mengingatkan agar tidak berkunjung ke restoran apung melebihi pukul 5 sore waktu setempat lantaran keterbatasan pasokan listrik sehingga restoran ini tidak tersedia sampai malam hari.

Selain menyantap seafood, pelancong juga berkesempatan menyaksikan ritual Toyah, upacara khas masyarakat Suku Bajo. Dalam ritual tersebut, seorang bayi akan dipangku oleh tujuh orang perempuan secara bergantian yang duduk di atas ayunan. Ayunan adalah simbol gelombang lautan yang akan dihadapi anak ketika dewasa menjadi pelaut. Tidak heran jika kemudian mayoritas masyarakat di Pulau Bungin berprofesi sebagai nelayan.

[1] Raplianto, Febrianti Lestari, Susiana. 2019. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Pantai di Pulau Bungin Kecamatan Tambelan Kabupaten Bintan. Jurnal Akuatiklestari, Vol. 3(1): 1-9.




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan