Tarif Selangit, Ini Sejarah Hotel Majapahit Surabaya




Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)
Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)

Sebagai salah satu kota metropolitan, tidak heran jika telah dilengkapi dengan sejumlah mentereng, termasuk hotel berbintang yang biasanya menawarkan tarif sewa kamar yang selangit. Nah, salah satu bintang lima di Kota Pahlawan yang sarat dan cukup populer di kalangan high-end adalah Hotel Majapahit.

Selain sebagai pusat bisnis dan industri, Surabaya juga dikenal memiliki banyak kawasan cagar budaya, terutama karena tersebar puluhan bangunan peninggalan , salah satunya di area Tunjungan. Di kawasan tersebut, berdiri sejumlah gedung peninggalan penjajah yang memiliki nilai sejarah cukup tinggi, antara lain Gedung Siola, Gedung Grahadi, Kantor Pos Simpang, Balai Pemuda, Balai Kota Surabaya, hingga Hotel Majapahit.[1]

Khusus nama yang disebutkan terakhir, gedung ini merupakan salah satu saksi bisu dan penting dalam perjuangan, tidak hanya di Surabaya, melainkan juga di seluruh Indonesia. Yup, Hotel Majapahit adalah nama baru untuk Hotel Yamato, saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan negara ini. Pasti banyak yang sudah tahu kisah perobekan bagian biru bendera Belanda yang menjadi tonggak penting perjuangan bangsa, yang terjadi di Hotel Yamato pada 19 September 1945 silam.

Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)
Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)

Setelah bagian biru dirobek oleh sejumlah pemuda Surabaya, bendera menyisakan warna merah dan putih yang merupakan bendera Republik Indonesia. Pemicu peristiwa ini adalah pihak Belanda mengibarkan bendera Kerajaan Belanda (merah putih biru) secara sepihak. Setelah insiden itu, nama hotel kemudian diubah menjadi Hotel Merdeka. Peristiwa penting ini lantas diabadikan dengan pembangunan monumen peristiwa perobekan bendera yang diletakkan di bagian barat laut bagian depan hotel.

Hotel ini sendiri pertama kali didirikan pada tahun 1910 silam oleh keluarga Sarkies setelah membeli sebuah rumah dengan lahan seluas 1.000 m2. Terletak di Jalan Tunjungan No. 65, Surabaya, pembangunan hotel dirancang oleh Regent Alfred John Bidwell, yang mengombinasikan gaya Art Nouveau dan Art Deco, lalu diresmikan pada 1 Juli 1911. Pada tahun 1923 dan 1926, dilakukan perluasan bangunan sayap kanan dan kiri, kemudian didirikan lobi hotel selang sepuluh tahun kemudian untuk kepentingan toko, kantor, dan rumah makan.

Lihat Juga:   Penginapan Recommended di Sekitar Kawasan Gunung Sindur

Lalu, pada tahun 1942, ketika Jepang menduduki Surabaya dan Indonesia, nama hotel ini diubah oleh pemerintah Negeri Sakura dengan sebutan Hotel Yamato. Tiga tahun berselang atau tahun 1945, fungsi hotel diubah menjadi kamp tahanan sementara untuk wanita dan anak-anak Belanda. Lalu, pada tahun 1946, Sarkies bersaudara kembali mengelola hotel dan mengubah namanya menjadi Lucas Martin Sarkies Hotel (LMS).

Kolam renang Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)
Kolam renang Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)

Sekitar dua dekade kemudian, perusahaan Mantrust Holding Co. menjadi pemilik baru dan mengganti nama Hotel Merdeka menjadi Hotel Majapahit. Pada tahun 1993, Mandarin Oriental Groups, yang bergabung dengan Sekar Groups, lantas membelinya dan melakukan renovasi dengan dana senilai 35 juta dolar AS. Tiga tahun berikutnya, dilakukan pemugaran restoran. Nama Hotel Majapahit kemudian diganti menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit Surabaya sebagai hotel bintang lima dan mendapat penghargaan Architectural Preservation Award.

Pada tahun 2006, PT Sekman Wisata mengambil alih hotel dan mengubah kembali namanya menjadi Hotel Majapahit. Pada tahun yang sama, hotel ini menerima penghargaan 2006 Best ASEAN Culture Preservation Effort dari The ASEAN Tourism Association. Sekarang, hotel berbintang lima yang terawat dengan baik dan tetap mempertahankan keaslian bangunannya tersebut dikelola oleh All Accor Live Limitless (dulu AccorHotels).

Fasilitas Hotel Majapahit Surabaya

Terletak di jantung Kota Surabaya, Hotel Majapahit menawarkan kamar-kamar yang dilengkapi dengan fasilitas akses Wi-Fi gratis serta kamar mandi berlapis emas dan marmer yang didukung shower air panas dan dingin. Semua kamar di penginapan tersebut juga didukung dengan AC, TV kabel, dan fasilitas membuat teh atau kopi. Di samping itu, disediakan pula brankas dan ruang kerja yang lapang, serta tidak ketinggalan area tempat duduk di beberapa unit.

Lihat Juga:   Info Penginapan Murah di Kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Salah satu kamar Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)
Salah satu kamar Hotel Majapahit Surabaya (sumber: booking.com)

Salah satu fasilitas unggulan di Hotel Majapahit adalah spa. ini menawarkan berbagai perawatan kesehatan dan kecantikan untuk menyegarkan tubuh, pikiran, dan jiwa. Selain itu, tersedia juga klub kesehatan yang mencakup tempat fitness dan lapangan tenis. Sementara, jika ingin bersantap, tamu bisa mampir ke Indigo Restaurant yang menyajikan sajian -Asia, Sarkies Seafood Restaurant dengan menu khas China, atau ke Toko Deli jika ingin mencicipi berbagai macam kue.

Untuk bersantai, tersedia Executive Lounge yang memiliki ruang yang lapang dan berkelas. Di tempat ini, para tamu bakal mendapatkan suasana santai untuk menyelesaikan hari-hari mereka. Di samping itu, ada juga Lobby Lounge dengan gaya Art Deco yang unik, menawarkan beragam pilihan koktail dan teh eksotis yang khas dan dibuka setiap hari mulai pukul delapan pagi hingga tengah malam.

Tarif Hotel Majapahit Surabaya

Dengan nilai historis yang tinggi serta bangunan yang terjaga keasliannya sejak berdiri hingga sekarang, tidak mengherankan jika kemudian harga sewa kamar di Hotel Majapahit Surabaya tergolong tinggi. Kamar Garden Terrace Room misalnya, disewakan dengan tarif mulai Rp1 jutaan per malam, kemudian sewa kamar Executive Suite sekitar Rp1,9 jutaan per malam, dan tarif President Suite bisa menyentuh angka Rp21 jutaan per malam. Jika Anda berminat, bisa via situs resmi hotel, melalui situs booking online, atau nomor telepon (031) 5454333.

[1] Savero, Rizvanda Ryan dan I Gusti Ngurah Antaryama. 2012. Keatraktifan Galeri Seni di Kawasan Cagar Budaya Surabaya. Jurnal Sains dan Seni ITS, Vol. 1(1): 20-23.




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan