Sejarah dibalik Pambangunan dan Pemberian Nama Bandara JUANDA Surabaya




Cikal bakal pembangunan bertaraf Internasional di kawasan , Jawa Timur ini sudah direncanakan sejak tahun 1956, dimana saat itu Bandara ini ditujukan sebagai Pangkalan Biro Penerbangan Angkatan Laut. Bersamaan dengan munculnya agenda politik pembebasan Irian Barat pada kala itu praktis membuat Bandara ini didaulat sebagai pangkalan udara baru sebagai basis militer. Bandara awalnya ditempatkan di wilayah Sidoarjo, tepatnya berada di wilayah Sedati, wilayah ini dipilih karena areanya sangat luas, berada di bidang yang cukup datar, dan dianggap lebih mudah diakses ketimbang lain yang ditawarkan seperti Gresik atau Raci (Pasuruan).Bandar Udara Juanda Surabaya

Sejak awal dijalankan proyek Bandara ini dinamakan “Proyek Waru”. Proyek ini merupakan pembangunan bandara baru pertama semenjak kemerdekaan, karena bandara lainnya hanya melibatkan proses pembaruan dari bandara peninggalan Belanda. Pelaksanaan proyek yang dimotori oleh dua perusahaan asing asal Perancis, yakni Compagnie d’Ingenieurs et Techniciens (CITE) sebagai konsultan dan Societe de Construction des Batinolles (Batignolles) sebagai kontraktor ini rencananya akan diselesaikna dalam kurun waktu 4 tahun terhitung mulai tahun 1960 hingga 1964. Lebih cepat dari perkiraan, proyek ini diakhiri pada September 1963, dan langsung digunakan untuk mendarat oleh 4 awak pesawat Gannet dibawah komando Mayor Kunto wibisono.

Meski terkesan mulus tanpa hambatan, pembangunan proyek waru ini sempat terhalang oleh masalah pendanaan, bahkan pihak Batignolles yang berperan sebagai kontraktor sempat mengancam untuk mundur dari proyek. Presiden Soekarno yang saat itu menjabat mengutus Ir. Djuanda untuk mengambil alih kuasa atas pembangunan proyek hingga pembangunannya rampung. Ir. baru mendarat di Pangkalan udara Waru pada 15 Oktober 1963, namun belum genap sebulan tepatnya pada 7 November 1963 Ir. Djuanda wafat. Untuk mengenang jasanya dalam menyelesaikan proyek pembangunan Bandara, maka Pangkalan udara yang sedianya akan diberi “Lanudal Waru” ini diresmikan dengan baru, yaitu “Lanudal Djuanda” pada 12 Agustus 1964 oleh Presiden Soekarno.

Lihat Juga:   Villa Rokan Anyer, Villa dengan Arsitektur Melayu di Tepian Laut Selat Sunda

Setelah diresmikan, muncul beberapa kendala terkait lokasi. Maskapai Garuda berencana untuk mengalihkan operasi pesawat convair 240, convair 340 dan convair 440 dari lapangan terbang Tanjung Perak ke Lanudal Djuanda. Namun, Lanudal Djuanda tampaknya juga belum bisa menampung karena dalam pembangunannya tidak direncanakan untuk penerbangan sipil. Kebutuhan akan landas penerbangan sipil tersebut mendesak pihak Lanudal Djuanda untuk berinisiatif merenovasi gudang bekas Batignolles yang lokasinya berada di kota Surabaya untuk dijadikan sementara, dan hingga kini lokasi inilah yang menjadi lokasi tetap Bandara Juanda.

Lihat Juga:   Info Traveling: Biaya Perjalanan dari Malang ke Bali Terbaru

Seiring perkembangan, Bandara ini tidak hanya menjadi landasan udara untuk penerbangan milik angkatan laut saja, namun juga dimanfaatkan untuk sejumlah penerbangan sipil yang jumlahnya makin bertambah dari hari ke hari. Dana tambahan yang berasal dari airport free maupun penggunaan landasan oleh penerbangan sipil menambah pemasukan pundi-pundi Lanudal Juanda untuk menutupi operasional dan pengembangan bandara. Kini, Bandara ini dikelola oleh PT. Angkasa Pura 1.




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan