Harga Tiket Masuk Keraton Jogja, Wisata Sejarah dan Budaya Epik




Keraton Yogyakarta tampak dari arah Alun-Alun (sumber: therabuana.com)
Keraton Yogyakarta tampak dari arah Alun-Alun (sumber: therabuana.com)

Saat ke Gudeg, memang tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Keraton Jogja.Pasalnya, bangunan ini sudah menjadi trademark Yogyakarta dan selalu masuk daftar list banyak traveler. Dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau, wisatawan bisa mengetahui tradisi dan budaya setempat, yang memberikan pengaruh pada kota dan masyarakat Yogyakarta hingga detik ini.

Keraton Jogja

Keraton Jogja sangat mudah ditemukan karena berada di pusat kota. Bangunan ini tepatnya terletak di Jalan Rotowijayan Blok 1, Panembahan, Kraton, Yogyakarta, di sebelah selatan Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta.Jika Anda datang dari kawasan populer Jalan Malioboro, cukup menempuh perjalanan sejauh 50 meter untuk bisa tiba ke tempat magis ini.

Apabila kebetulan Anda berkunjung ke Yogyakarta menggunakan kereta api, Anda bisa turun di Tugu. Setibanya di Tugu, Anda bisa berjalan kaki lurus ke arah selatan. Anda akan melewati perempatan Jalan Malioboro. Kemudian, ketika sudah sampai di lapangan yang luas atau Alun-Alun Utara, Anda bisa ke selatan dan akan menemukan Keraton Jogja.

Sementara, apabila Anda bertolak dari Semarang atau , bisa melalui rute Ungaran, Ambarawa, Magelang, Jalan Magelang-Jogja, Terminal Jombor, Jalan Diponegoro. Setibanya di Tugu Yogyakarta, Anda bisa belok kanan menuju Jalan Mangkubumi, kemudian ke Jalan Malioboro, Jalan Ahmad Yani, Jalan Senopati, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Roswo, Jalan William, Jalan Kesatrian, dan sampailah di Keraton Yogyakarta.

Sejarah Keraton Jogja

Bagian dalam keraton (sumber: travelspromo.com)
Bagian dalam keraton (sumber: travelspromo.com)

Keberadaan Keraton Jogja tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Mataram Islam, yang sudah berdiri pada abad ke-16 dan berpusat di Kota Gede.Seperti diketahui, kala itu, Kerajaan Mataram Islam sempat mencapai puncak kejayaan dan menjadi salah satu kerajaan terbesar di Tanah Jawa ketika dipimpin oleh Sultan Agung.Perjuangan Sultan Agung melawan penjajah kolonial VOC menjadi cerita epik yang masih dikenang hingga detik ini.

Lihat Juga:   Rekomendasi Penginapan di Sekitar Leuwi Hejo

Sepeninggal Sultan Agung, Kerajaan Mataram Islam mengalami pasang surut dengan berbagai konflik dan peralihan kekuasaan, yang dicampuri kepentingan Belanda. Lalu, pada 13 Februari 1755, Perjanjian Giyanti ditandatangani dan membagi kerajaan menjadi dua bagian, yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan KasultananNgayogyakartaHadiningrat.[1]Surakarta dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III, sedangkan Yogyakarta dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

Sebulan kemudian, Sultan Hamengku Buwono I mengumandangkan proklamasi atau Hadeging Nagari NgyayogyakartaHadiningrat.Kemudian, pada 9 Oktober 1755, pembangunan Keraton Yogyakarta resmi dimulai.[2]Proses pembangunan berlangsung hingga hampir satu tahun.Sri Sultan Hamengku Buwono I dan mulai memasuki keraton pada tanggal 7 Oktober 1756.

Pesona Keraton Jogja

Jalan masuk ke keraton (sumber: travelspromo.com)
Jalan masuk ke keraton (sumber: travelspromo.com)

Jika Anda mengunjungi Keraton Jogja dari arah Malioboro dan masuk dari Alun-Alun Utara, Anda akan menjumpai dua pohon beringin yang legendaris. Kemudian, Anda akan menemukan Bangsal Pagelaran yang menjadi bangunan utama keraton. Di sebelah atas, terdapat gerbang dengan hiasan relief berupa lima tawon atau lebah yang melingkar di atas seekor buaya atau biawan. Relief tersebut menunjukkan tahun pagelaran disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Bangunan utama keraton sendiri tampak lapang sekaligus megah. Dulunya, ini adalah tempat para abdi dalem menghadap Sultan Jogja ketika upacara-upacara kerajaan dan menjadi lokasi menjamu tamu kerajaan.Sekarang, ruangan ini sering digunakan untuk even-even pariwisata, religi, dan lain-lain, selain untuk upacara adat keraton.

Sepasang Bangsal Pasewakan/Pengapit terletak tepat di sisi luar sayap timur dan barat Bangsal Pagelaran.Dahulu, area ini digunakan para panglima Kesultanan menerima perintah dari Sultan atau menunggu giliran melapor, selain digunakan sebagai tempat jaga Bupati Anom Jaba.Sekarang, ruangan ini digunakan untuk kepentingan pariwisata (semacam diorama yang menggambarkan prosesi adat, prajurit keraton, dan lainnya).

Di sudut keraton yang lain terdapat kedathon, yang merupakan tempat bertemunya Sultan dengan semua pemangku keraton. Dengan suasana bangunan joglo yang indah dengan beberapa ornamen ala Jawa-Arab yang menghiasi di setiap tembok dan pilar, juga berbagai macam tanaman rindang, bangunan ini terkesan sakral.Ada yang menarik di komplek kedhaton tersebut. Ketika Anda masuk pintu area keraton, akan selalu bertemu dengan para penjaga (pekerja khusus) keraton atau yang biasa disebut dengan abdi dalem.

Lihat Juga:   Tempat Favorit Berburu Oleh-Oleh di Bandung
Koleksi gamelan milik keraton (sumber: travelspromo.com)
Koleksi gamelan milik keraton (sumber: travelspromo.com)

Di dalam keraton, pengunjung juga bakal dimanjakan dengan koleksi barang-barang khas Jawa peninggalan tempo dulu. Anda bisa melihatlukisan, keris, foto raja-raja Jawa, silsilah raja jawa, dan berbagai hasil budaya Jawa lainnya. Sementara, ketika masuk di rumah batik, Anda akan menjumpai batik dengan motif yang menjadi ciri Keraton Jogja sekaligus merupakan simbol dari istana Jawa yang hanya boleh dicetak dan dipakai di lingkungan kerajaan. Jadi, wisatawan dilarang memotret di area ini.

Di bagian kompleks belakang, traveler akan menjumpai Alun-Alun Kidul yang sering pula disebut sebagai Pengkeran. Pengkeran berasal dari kata pengker (bentuk krama) dari mburi (belakang).Hal tersebut sesuai dengan letak alun-alun yang memang terletak di belakang keraton. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah.

Keraton Jogja

Dengan segala kekayaan warisan budaya yang ditampilkan, mengunjungi Keraton Jogja ternyata tidak mahal.Wisatawan domestik yang berniat mengeksplorasi keindahan bangunan ini, cukup membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 untuk turis lokal.Sementara, untuk wisatawan mancanegara, harga tiket masuk sedikit lebih mahal, yakni Rp15.000. Keraton Jogja sendiri buka setiap hari mulai jam 9 pagi hingga 2 siang. Khusus hari Jumat, jam buka hanya sampai pukul 11.00 WIB.

[1] Kraton Jogja. //www.kratonjogja.id/cikal-bakal/detail. Diakses 22 November 2019.

[2] Ibid.




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan