Gresik Djaman Doeloe, Menjual Potensi Wisata Berbasis Heritage

gajahmungkur-kemasan

SUASANA Kampung Kemasan terasa lebih ramai daripada biasanya dalam sepekan terakhir. Maklum, kampung yang sebagian besar bangunan rumah berarsitektur campuran kolonial dengan Tiongkok tersebut sedang punya hajat. Yakni, Djaman .

Ada beberapa pergelaran menarik di dalamnya. Mulai festival jilbab, festival hari pasaran, dolanan, aneka jajanan dan makanan khas, hingga hiburan. Dagangan yang disajikan tidak hanya makanan khas Gresik seperti sego romoo, sego menir, ubus, pudak, atau jubung.

Banyak juga pedagang yang berjualan suvenir dan pernik-pernik Santri lain. “Semua pedagang boleh berjualan di Festival Hari Pasaran ini,” kata Oemar Zainuddin, salah seorang tokoh di Kampung Kemasan.

Uniknya, dalam Festival Hari Pasaran itu transaksi jual beli tidak menggunakan mata uang rupiah, tapi uang dinar dan dirham. Karena uang dari logam perak dan emas tersebut langka di Gresik, panitia Jaringan Wirausahawan dan Pengguna Dinar Dirham Nusantara (Jawara) menyediakan khusus penukaran uang zaman dulu tersebut.

Tentu saja, belanja dengan menggunakan uang tersebut memiliki sensasi sendiri. Bisa jadi karena belum terbiasa, dalam festival itu banyak pembeli atau penjual yang masih kikuk. Apalagi, barang yang dijual juga ada yang di bawah 1/6 dirham atau senilai Rp 11.100. Seperenam dirham itu adalah nilai terkecil dalam mata uang yang terbuat dari perak murni 99,95 persen dengan diameter 16 milimeter itu. Ketua Paguyuban Jawara Nasional R.

Lihat Juga:   The Waroeng of Raminten Kaliurang, Tempat makan Asyik dengan Menu-menu Nyentrik

Abdarrahman Rachadi memaklumi. Sebab, FHP di Kampung Kemasan baru dua kali diselenggarakan dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini. Namun, di beberapa kampung lain saat festival dilaksanakan penjual atau pembeli sudah terbiasa.

Sebut saja seperti Cilincing, Tebet Barat, Tanah Baru, Depok. “Bahkan, di Pasar Tebet Barat sudah ada pedagang yang mau menerima dinar,” katanya.

rumahtua-kemasanLelaki yang juga wakil ketua Wakala Nusantara tersebut optimistis, lambat laun penggunaan dirham dan dinar bisa memasyarakat di Gresik. Mengapa? Sebab, Gresik sebagai Kota Santri sebetulnya masyarakatnya sudah lama mengenal dirham dan dinar. Dia lalu mencontohkan zaman Maulana Malik Ibrahim maupun Maulana Ainul Yaqin ketika masuk menyebarkan agama Islam di Gresik. Kala itu juga mengenalkan uang dirham dan dinar sebagai alat tukar.

Lihat Juga:   Tiket Masuk, Permainan, dan Paket Wisata di Dolan Ndeso, Yogyakarta

Abdarrahman optimistis, uang logam murni dari emas atau perak itu bakal semakin diterima masyarakat Gresik atau yang lain. Sebab, nilai tukar dirham dan dinar adil dan terbebas dari inflasi. Uang satu dinar sekarang senilai Rp 2.135.000. “Kalau Anda sekarang memiliki uang Rp 2,1 juta, kelak lima tahun lagi, apakah jumlah uang tersebut masih bisa untuk membeli seekor kambing?” ungkapnya.

FHP di Kampung Kemasan itu adalah bagian dari event Gresik Djaman Doeloe. Leading sector event tersebut adalah Dinas Kebudayaan, , Pemuda, dan Olahraga (Dikbudparpora) bersama Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik.

Selama berlangsung event ini biasanya pedagang bebas berjualan. Terutama makanan, jajanan, serta suvenir khas. Banyak juga pagelaran hiburan yang mengiringi. Karena itu, Kampung Kemasan pun menjadi riuh. (yad/c4/hud/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>