Pengertian Wisata Halal: Konsep dan Komponennya




Ilustrasi: traveler muslim/wisata halal (pexels: Arif ID)
Ilustrasi: traveler muslim/wisata halal (pexels: Arif ID)

Dalam beberapa tahun belakangan, marak terdengar konsep halal. Bukan cuma negara dengan mayoritas penduduk Islam yang mengusung tema tersebut, tetapi juga negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Thailand, Australia, hingga Selandia Baru dan Inggris, yang mayoritas warganya adalah non-Muslim. Lalu, apakah pengertian wisata halal tersebut dan bagaimana konsep sebenarnya?

Sekilas Tentang Pariwisata

Sebelum membicarakan konsep halal, sebaiknya kita lebih dulu memahami apa makna pariwisata. Ada banyak pengertian pariwisata, salah satunya adalah keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan masuk, tinggal, dan pergerakan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota, atau wilayah tertentu.[1] Pariwisata juga dapat dikatakan sebagai perjalanan yang dilakukan sementara waktu, dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menikmati perjalanan bertamasya dan rekreasi.[2]

Tidak semua perjalanan dapat dikatakan sebagai pariwisata. Pariwisata setidaknya harus memenuhi sejumlah kriteria, antara lain perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat yang lain (di luar kediaman orang itu biasanya tinggal), tujuan perjalanan dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang dan tanpa mencari nafkah, uang yang dibelanjakan wisatawan dibawa dari negara asalnya, dan perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih.[3]

Objek wisata Candi Borobudur (sumber: pesona.travel)
Objek Candi Borobudur (sumber: pesona.travel)

Pengertian Halal

Untuk mengembangkan potensi daerah, tentunya dibutuhkan sebuah strategi khusus, termasuk kebijakan pelaksanaan, penentuan tujuan yang hendak dicapai, dan penentuan cara-cara atau metode penggunaan sarana dan prasarana. Karena itu, strategi pengembangan pariwisata juga harus didukung dengan kemampuan untuk mengantisipasi kesempatan yang ada.

Nah, belakangan ini, banyak orang yang mulai menunjukkan ketertarikan mereka pada konsep serta pemahaman tentang gaya hidup halal dalam kesehariannya. Makanan halal menjadi sorotan, tidak cuma makanan dalam kemasan, bahkan hingga makanan yang disajikan di restoran. Selain itu, tidak sedikit yang peduli dengan fasilitas hotel, layanan perbankan, sosialisasi, traveling, hingga perlengkapan kesehatan dan kosmetik yang halal.

Bertolak dari fakta tersebut, sekarang akhirnya muncul suatu konsep pariwisata dengan apa yang kemudian dinamakan halal. Lalu, apakah itu wisata halal? Apakah wisata halal hanya sebatas menyajikan fasilitas pariwisata yang halal secara syariah? Bagaimana dengan tujuan perjalanannya dan apakah konsep wisata ini dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk negara yang bukan mayoritas Muslim?

halal (ada juga yang menyebutnya wisata syariah) dapat didefinisikan sebagai yang dilakukan oleh Muslim yang memang didorong oleh motivasi untuk melakukan aktivitas Islam dan sesuai prinsip syariah. Selain itu, wisata syariah juga bisa diartikan sebagai sistem pariwisata yang implementasinya berdasarkan aturan syariah. Konsep utama wisata syariah ini adalah kegiatan rekreasi dengan nilai-nilai Islami.[4]

Namun, sebelum membahas lebih mendalam mengenai halal, kita setidaknya perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai definisi halal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, halal diartikan sebagai diizinkan (tidak dilarang oleh syara). Dapat juga diartikan sebagai sah, misalnya anak halal maksudnya adalah anak yang sah. Sementara itu, secara luas, halal adalah segala sesuatu yang tidak secara mutlak dilarang oleh agama (syariah).[5] Wisata halal ini merupakan perwujudan dari nuansa religius dalam kehidupan sosial budaya dan sosial ekonomi, yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Lihat Juga:   Update Harga Tiket Pantai Ngantep, Wisata Kece di Malang Selatan

Dilansir dari Republika, KH Ma’ruf Amin sempat menuturkan bahwa perspektif wisata halal bukan mengubah objek wisata menjadi halal. Halal yang dimaksud adalah penyediaan pangan yang disajikan dalam restoran, ketersediaan tempat ibadah dan hotel yang dapat memiliki standar kehalalan, juga terkait masalah kesehatan dan higienitas. Jadi, konteks wisata halal ada pada layanan, bukan mengubah objek atau alam wisata lainnya.

Ilustrasi: traveler wisata halal (sumber: tempo)
Ilustrasi: traveler wisata halal (sumber: tempo)

Komponen Wisata Halal[6]

  • Halal hotel, yakni penginapan yang menyediakan layanan secara Islami kepada turis Muslim, tidak sebatas pada menyajikan makanan dan minuman yang halal, tetapi juga dalam mengelola hotel berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
  • Transportasi halal, adalah adanya pemisahan posisi duduk antara wisatawan Muslim perempuan dan laki-laki yang bukan mahram, agar turis tersebut merasa nyaman satu sama lain.
  • Restoran halal, tidak hanya menyajikan makanan dan minuman halal, tetapi juga terkait lokasi (semisal menyediakan musala terdekat), bahan atau produk makanan yang halal, pembuangan sampah yang sesuai dengan prosedur, penggunaan staf yang telah terlatih untuk melayani turis Muslim, dan lainnya.
  • Makanan halal, berkaitan dengan makanan dan minuman yang memiliki kehalalan, baik dari bahan dan cara pengolahan, seperti pemotongan hewan harus disembelih dengan menyebut nama Allah SWT untuk menjadi daging yang halal.
  • Logistik yang halal, terkait dengan proses pengelolaan pengadaan, gerakan, penyimpanan, dan penanganan bahan, bagian, ternak, setengah jadi atau barang jadi persediaan makanan dan non-makanan, dan informasi terkait dan dokumentasi mengalir melalui organisasi dan pasokan rantai sesuai dengan prinsip-prinsip umum syariah.
  • Sistem keuangan Islami, artinya dalam sistem pembiayaan atau keuangan, harus dengan mengedepankan prinsip-prinsip Islami dan tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam Al Quran maupun hadis, serta harus adil dan jujur terhadap pelancong Muslim agar tidak ada pihak yang dirugikan.
  • Paket perjalanan Islami, yakni paket perjalanan wisata yang menyediakan fasilitas dan aturan-aturan yang lebih Islami.
  • Halal spa, terdiri dari beberapa komponen, yakni lokasi, bahan spa, keamanan, pelayanan, tanggungan sosial, manajemen lingkungan, dan pengolahan limbah yang sesuai syariat Islam.

Sementara itu, Global Muslim Travel Index, sebuah standar yang disusun oleh CrescentRating, mengidentifikasi standar wisata halal dunia, yang mencakup destinasi wisata harus ramah keluarga dan anak-anak, keamanan umum bagi wisatawan Muslim, jumlah kedatangan wisatawan Muslim yang cukup ramai, layanan dan fasilitas di destinasi yang ramah Muslim (Muslim-friendly), pilihan makanan yang terjamin kehalalannya, akses ibadah yang mudah dan punya kondisi baik, fasilitas di bandara yang ramah Muslim, opsi akomodasi yang memadai, kesadaran halal dan pemasaran destinasi, kemudahan komunikasi, jangkauan dan kesadaran kebutuhan turis Muslim, konektivitas transportasi udara, dan persyaratan visa.

Lihat Juga:   Info Lengkap Daftar Villa Recommended di Tretes yang Ada Kolam Renangnya
Ilustrasi: traveler muslim (sumber: detik)
Ilustrasi: traveler muslim (sumber: detik)

Wisata Halal Populer di Indonesia

Di saat ini, wisata halal tidak hanya dikembangkan oleh negara dengan penduduk mayoritas Muslim, tetapi juga negara-negara dengan Muslim minoritas, misalnya saja Jepang dan Korea Selatan. Selain itu, pariwisata halal tidak hanya dapat dinikmati oleh traveler beragam Islam, melainkan juga oleh pelancong non-Muslim di segala penjuru dunia.

Meski demikian, destinasi wisata halal populer memang masih didominasi negara mayoritas Muslim. Menurut data MasterCard CrescentRating Global Muslim Traveling Index tahun 2019, Indonesia berada di posisi pertama sebagai destinasi halal favorit, bersanding dengan Malaysia, dengan skor seimbang 78 persen. Urutan berikutnya ada Turki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Maroko, Bahrain, dan Oman.

Menurut Indonesia Muslim Travel Index 2019, ada lima tempat wisata halal yang sering dikunjungi, yakni Lombok (Nusa Tenggara Barat) dengan skor 70 persen, Aceh dengan skor 66 persen, Riau dan Kepulauan Riau dengan skor 63 persen, DKI Jakarta dengan skor 59 persen, dan Sumatera Barat dengan skor 59 persen.[7] Sementara itu, 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional tahun 2018 yang disusun pemerintah adalah Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya).

[1] Primadany, Sefira Ryalita, Mardiono, Riyanto. 2013. Analisis Strategi Pengembangan Pariwisata Daerah (Studi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Kabupaten Nganjuk). Jurnal Administrasi Publik Universitas Brawijaya, Vol. 1(4): 135-143.

[2] Musanef. 1995. Manajemen Pariwisata di Indonesia. Jakarta: Gunung Agung, hlm. 11.

[3] Yoeti, Oka A. 2008. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita, hlm. 8.

[4] Pratiwi, Ade Ela. 2016. Analisis Pasar Wisata Syariah di Kota Yogyakarta. Jurnal Media Wisata, Vol. 14(1): 345-364.

[5] Baca, Bahatma. 2021. Halal Life Style sebagai Dakwah Determinasi Diri dan Sosial Masyarakat Indonesia. Al-Hikmah, Vol. 19(1): 1-12.

[6] Chookaew, Sureerat, et al. 2015. Increasing Halal Tourism Potential at Andaman Gulf in Thailand for Muslim Country. Journal of Economics, Business and Management, Vol. 3(7).

[7] Ferdiansyah, Hendry, et al. 2020. Pengembangan Pariwisata Halal di Indonesia Melalui Konsep Smart Tourism. Journal of Sustainable Tourism Research, Vol. 2(1).




Be the first to comment

Tinggalkan Balasan